SOREANG, (WN.net) -- Lahan pertanian, terutama lahan sawah di Kabupaten Bandung terus tergerus oleh penyediaan berbagai infrstruktur, baik perumahan, jalan, dan fasilitas lainnya. Tidak heran bila saat ini banyak areal sawah yang telah berubah fungsi, dari zona hijau menjadi zona kuning, bahkan zona merah.
Areal sawah yang telah berubah jadi lahan beton secara besar-besaran itu, antara lain pembangunan infrastruktur sarana olahraga Stadion Si Jalak Harupat dengan sejumlah venue di kawasan Kecamatan Kutawaringin, pembangunan Jalan Tol Soreang-Pasirkoja (Siroja), kompleks perumahan yang dibangun di sejumlah wilayah, gedung Budaya Sabilulungan dan, Bale Rame, serta fasilitas infrastruktur lainnya yang telah mengambil alih ribuan hektar arel sawah.
Belum lagi rencana proyek besar-besaran, seperti pembangunan stasiun kereta api cepat di Tegaluar dan proyek akses jalan Tol Tegaluar-Gedebage, akses jalan Soreang-Katapang, Katapang-Baleendah, serta danau buatan di Baleendah dan Tegaluar yang dipastikan akan memaksa menggerus ratusan hektar lahan sawah. Praktis bila lahan sawah berkurang, produksi padi pun akan terus melorot, bila pemerintah setempat tidak segera menyediakan lahan pengganti.
"Mau tidak mau, karena kebutuhan dan kemajuan suatu daerah, pasti akan ada kehilangan, karena ciri masyarakat sejahtera yaitu punya rumah, punya pekerjaan, fasilitas jalan yang bagus, serta fasilitas penunjang lainnya. Kabupaten Bandung sebagai penyangga ibu kota provinsi tentu akan terkena dampaknya," jelas Kepala Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Disperhutbun) Kabupaten Bandung, Ir. HA. Tisna Umaran, MP, di Soreang, kemarin.
Dampak pembangunan Tol Soroja, tutur Tisna, Kabupaten Bandung secara fisik kehilangan sekitar 14 hektar. Namun secara kumulatif untuk fasilitas penunjang lainnya, seperti perumahan, rencana pasar induk, dan lainnya bisa mencapai antara 30 sampai 37 hektar lahan sawah.
Amankan 30 ribu Hektar
Terkait hal itu, kata Tisna, pihaknya telah mengambil langkah antisipasi, yaitu dalam rencana tata rung wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung 2016, meminta mempertahankan pengamanan lahan sawah seluas 30 ribu hektar.
"Sementara saat ini luas areal sawah yang ada di Kabupaten Bandung mencapai 32 ribu hektar. Ini berarti ada sekitar dua ribu hektar yang dicadangkan bila terjadi alih fungsi lahan yang dicadangkan hingga tahun 2025," jelas Tisna.
Cadangan seluas itu, lanjut Tisna, termasuk untuk lahan sawah yang akan digunakan untuk Stasiun Kereta Api cepat di Tegaluar, akses jalan Soreang-Sayati, Soreang-Baleendah, dan pembangunan fasilitas umum lainnya.
“Kabupaten Bandung sendiri harus menyesuaikan rencana skala prioritas pembangunan nasional. Tidak seperti dulu, kalau dulu pusat tidak bisa membangun kalau sudah ada dalam tata ruang, misalnya di zona hijau, sekarang justru kita harus menyesuaikan dengan pusat," katanya.
Kaitan penggunaan lahan, tutur Tisna, ada payung hukum, berupa peraturan daerah (perda). Bila penggunaan lahan tidak sesuai perda, atau melanggar perda, maka akan ada sanksi hukum.
Tisna tidak memungkiri, dampak pembangunan akan memangkas produksi padi. Namun ia tidak menyebutkan berapa persen penurunan jumlah produksi padi di Kabupaten Bandung saat ini.
"Hal jelas, untuk mempertahankan swasembada pangan, khususnya padi, ada inovasi seperti penanaman varietas unggul yang bisa menghasilkan produksi padi lebik bagus, seperti padi hibridan dan inhibrida," ujar Tisna.
Tahun lalu Kabupaten Bandung menargetkan sekitar 350 ribu ton gabah kering giling dan dinyatakan masih surplus. Sedangkan untuk lahan pengganti, menurut Tisna, pihaknya telah menyiapkan lahan sawah seluas lebih dari 300 hektar, yaitu di Cipelah seluas 6 hektar dan Ciparay 300 hektar. Di Ciparay, saat ini arel sawah yang masih utuh mencapai 3.500 hektar.
Data menyebutkan, potensi lahan di Kabupaten Bandung, terdiri atas lahan sawah seluas 36.212 hektar atau 20,55% dari luas wilayah Kabupaten Bandung (176,239 Ha), lahan kering seluas 140.027 hektar (79,45 %), terdiri atas lahan kering pertanian seluas 74.778 Ha (42,43 %) dan lahan kering bukan pertanian 65.249 Ha (37%). * deddyra
