SOREANG, (WN.net) -- Hingga hari ke empat sejak dibukanya Pekan Olah Raga Nasional (PON) XIX Jabar 2016, suasana bazar di arena PON Kompleks Olah Raga Si Jalak Harupat, Kutawaringin, Kabupaten Bandung, tampak masih sepi pengunjung. Karuan sepinya pengunjung ini berimbas pada omset para pemilik outlet yang digelar di lokasi bazar yang dibuka sejak Sabtu lalu itu.
Pada pagelaran akbar PON XIX, Pemerintah Kabupaten Bandung, sengaja membuka bazar bagi pengusaha UKM (Usaha Kecil Menengah) di Kabupaten Bandung. Lebih dari 300 pengusaha UKM mengisi gerai atau saung di lokasi bazar yang ditempatkan di lapangan luar atau samping pintu masuk utama Stadion Si Jalak Harupat.
Berbagai produk, seperti kerajinan, fashion, produk olahan atau kuliner, dijajakan di sana.
"Enggak tahu, masih sepi nih. Padahal sudah hari ke empat. Kalau pada pembukaan, hari Sabtu lumayan," ujar Kurdaman, pengusah kerajinan limbah kayu, asal Banjaran, ketika ditemui di gerainya, Selasa (20/9).
Hal sama juga disampakan Bandi, pemilik gerai kopi asal Pangalengan.
"Masih sepi, sejak dibuka sampai hari ini (Selasa, Red.) belum satu pun terjual. Pengunjung ada satu-dua, tapi tidak beli hanya lihat-lihat dan minum kopi," kata Bandi, yang di gerainya pengunjung bisa mencicipi minuman kopi gratis yang asli.
Bandi yang telah membuka usaha kopi asal Pangalengan sejak tahun 2012 ini, mengaku tidak tahu pasti pengunjung bisa sepi.
Padahal, ia berharap pada event nasional ini banyak pengunjung dan bisa meraup keuntungan besar.
Kemasan kopi yang ia jual, berupa biji kopi mentah atau yang sudah diolah. Ia menjual kopi asli yang sudah dikemas antara Rp1,5 ribu hingga Rp250 ribu per kilo.
"Kopinya asli, tidak ada zat kimia. Bahkan hasil penelitian medis, bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti lambung dan jantung. Itu yamg membuat kopi ini mahal," aku Bandi.
Sepinya pembeli juga dirasakan sejumlah pemilik gerai lainnya.
"Tidak ada greget. Enggak tahu kenapa. Mungkin suasananya yang kurang mendukung," ujar Alo Sobirin, Kepala Desa Cilame, Kecamatan Kutawaringin, yang membuka gerai produk UKM asal desanya.
Ia berharap, pada pameran produk UKM di PON ini bisa menjadi ajang promosi, sehingga produk UKM yang kebanyakan kerajinan, fashion, dan makanan olahan di desanya bisa lebih dikenal ke luar daerah, bahkan mancanegara.
"Dengan event ini diharapkan produk UKM di desa kami lebih dikenal, sehingga bisa meningkatkan produksinya. Kalau sudah meningkat, otomatis pendapatan dan kesejaheraan pun bisa meningkat," paparnya.
Namun sumber lain mengatakan, sepinya pengunjung, karena kurangnya sosialisasi pihak penyelenggara.
"Seharusnya pihak sekolah juga dilibatkan. Pulang sekolah atau saat libur bisa dikerahkan ke arena PON. Event ini ‘kan bisa jadi bahan pendidikan bagi para pelajar," kata salah seorang pegawai di lingkungan Sekertariat Daerah Pemkab Bandung.
Sementara itu, Camat Kutawaringin, Asep Supriadi, menyatakan pihaknya sebagai tuan rumah memberikan support digelarnya PON di Jalak Harupat.
"Kita support agar masyarakat menjaga kebersihan, ketentraman, ketertiban, khusunya bagi para tamu PON. Kami tidak mengerahkan masyarakat, tapi memberi support saja, termasuk digelarnya bazar agar dimanfaatkan para UKM, sehingga produk unggulan bisa digelar dan dikenal dalam ajang nasional ini," kata Asep Supriadi.
Menurut Asep, ada beberapa fasilitas rumah penduduk yang digunakan untuk para atlet atau tamu peserta PON. Pihaknya juga tidak mengarahkan fasilitas di rumah susun untuk tamu PON, karena selain rusun tersebut belum beres, juga karena yang berwenang menyediakan fasilitas adalah Sub PB PON.
"Kita hanya mendukung, memberi support, agar someah ka semah untuk suksesnya penyelenggaran PON," katanya.
Hal sama disampaikan Camat Katapang, Agus Rizal. Pihaknya, sangat mendukung bagi suksesnya penyelenggaraan PON XIX.
Ia pun telah mengimbau masyarakatnya untuk bebersih, terutama di lingkungan sekitar Jalan Raya Katapang. Selain bersih-bersih, secara swadaya masyarakat melakukan pemasangan umbul-umbul, atribut, atau spanduk PON XIX di pinggir jalan raya sejak beberapa minggu sebelum PON digelar. * deddyra
