SOREANG, (WN.net) -- Kasus stunting di Kabupaten Bandung sempat menyeruak karena sudah menyebar di 10 desa dari 8 kecamatan sebagaimana disampaikan data Kementerian Kesehatan.
Menanggapi hal itu, Asisten Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bandung, H. Marlan, mengatakan data yang dikeluarkan Kementetian Kesehatan itu adalah data tahun 2013, sehingga tidak valid dengan kondisi di lapangan.
"Berdasarkan Menteri Kesehatan ada 10 desa dari 8 kecamatan yang terkena stunting, kenyataan di lapangan tidak seperti apa yang dihebohkan dan data yang dikeluarkan Kementrian Kesehatan adalah data tahun 2013 sehingga tidak palid dengan kondisi di lapangan," jelas Marlan usai membuka deklarasi kemitraan untuk gerakan masyarakat hidup sehat, di Hotel Sutan Raja, Soreang, Kabupaten Bandung, Jumat (30/11).
Meski begitu, tutur Marlan, Pemkab Bandung sudah melakukan beberapa langkah untuk penanggulangan kasus stunting tersebut.
"Kita sedang menyusun rencana aksi daerah berkaitan stunting. Diharapkan tahun depan kita sudah punya rencana aksinya untuk menurunkan stunting," jelas Marlan.
Sebetulnya, imbuh Marlan, Pemkab Bandung tahun 2005-2010 sudah melaksanakan pengobatan pilariasis yang obatnya itu adalah obat cacing, karena salah satu pencegahan stunting itu sama, memberikan obat cacing kepada anak-anak, dan selama lima tahun berturut-turut sudah melakukan program itu kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Bandung.
"Kalau melihat kondisi fisik anak-anak di Kabupaten Bandung saat ini sudah kelihatan baik. Kalau anak cacingan atau kurang gizi tampak ingusan, sekarang tidak ada. Berarti kondisi gizi di Kabupaten Bandung sudah cukup baik, meski begitu peringatan dari pusat harus direspon secara baik oleh pemda dan penanggulangan stunting sedang terus berjalan," papar Marlan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung sempat mengklaim angka stunting di Kabupaten Bandung masih dalam batas normal, sekitar 7%.
Dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional ke 54 tingkat Kabupaten Bandung di Dome Bale Rame Sabililungan Soreang, Selasa (27/11/2018), Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung mencanangkan pencegahan stunting untuk menekan angka stunting di Kabupaten Bandung.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, Dr. Grace Mediana, mengatakan stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Efeknya, anak lebih pendek daripada anak normal seusianya.
Gerakan Hidup Sehat
Di sela-sela acara deklari, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, Dr. Grace Mediana, memaparkan terkait gerakan hidup sehat. Deklarasi itu merupakan kemitraan untuk memberikan informasi dan sosialisasi pada masyarakat bahwa permasalahan kesehatan bukan milik bidang kesehatan saja, tapi masyarakat, pengusaha, agar berkotribusi untuk permaslahan tersebut. Dengan bersosialisasi terhadap gerakan masyarakat hidup sehat, seperti berolah raga, beraktivitas, istirahat yang cukup, atau tidak merokok.
"Kalau melihat data kesadaran hidup sehat sulit, tapi kita sudah melakukan gerakan hidup masyarakat sehat, untuk mengubah perilaku masyarakat supaya tidak terjadi penyakit menular, atau dihinggapai penyakit menular, seperti tadi hipertensi, stroke, diabetes, kita harus waspada kepada masyarakat untuk selalu melakukan gerakan hidup sehat secara cerdik (cek kesehatan enyah karena asap rokok, rajin beraktivitas berolahraga, diet yang seimbang, istirahat yang cukup dan kelola stres)," tutur Grace.
"Kalau mengingat itu dan mengubah perilaku kita insha Alloh akan sehat. Setelah mengikuti kegiatan ini khususnya dunia usaha atau organisasi masyarakat dapat menyosialisasiikan kepada masyarakat bagaimana pentingnya melakukan cerdik itu," imbuhnya.* deddyra
