SOREANG, (WN.net) -- Ketua Program Studi (Prodi) Kependidikan Pelatihan Olah Raga Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dr. Komarudin, M.Pd., mengatakan sumber daya manusia (SDM) pelatih di daerah terkait ilmu kepelatihan masih jauh.
"Bisa jadi pelatih di daerah itu mantan atlit. Dia menjadi pelatih dengan keilmuan belum mumpuni, bisa jadi yang diperoleh dulu sejak atlit begitu. Jadi pelatih menerapkan apa yang sudah diterima dia dulu saat dilatih," papar Komarudin, di sel-selaa kegiatan Program Pengabdian Masyarakat (P2M) pendidikan kepelatihan olah raga di Hotel Sutan Raja, Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (7/11).
Kegiatan P2M ini digelar UPI bekerja sama dengan Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bandung, berlangsung dua hari, diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai cabang olahraga (cabor) yang ada di Kabupaten Bandung.
Komarudin mengatakan, selama ini di induk olah raga daerah seperti KONI, pendidikan untuk kepelatihan olah raga sudah berjalan melalui slot kepelatihan.
"Namun kami ada rasa kepedulian untuk menebar ilmu, karena yang namanya dosen punya kewajiban tridarma, yaitu pengajaran dan pendidikan, penelitian dan pengabdian. Kalau dosen tidak melakukan tridarma, bahaya untuk jenjang kedepannya," imbuh Komarudin.
Tujuan kegiatan P2M, tutur Komarudian, untuk meningkatkan ilmu pengetahuan kepelatihan olah raga.
"Kami perduli pada peningkatan SDM pelatih, terutama di Jawa Barat, karena Jawa Barat sukses di PON dan bibitnya di daerah," katanya.
Menurut Komarudin, bila kualitas SDM pelatih di daerah kurang bagus, maka kontribusi ke depan terhadap pembinaan olah raga prestasi akan stagnan.
"Kami mengadakan PKM rutin keliling Jawa Barat, tahun lalu di Kabupaten Kuningan, karena sekarang waktunya mepet maka kami mengambil yang terdeket, dari UPI ke Soreang hanya 15 menit karena ada tol," ujar dia.
Program P2M, tutur Komarudin, selama ini cukup baik. Misalnya ketika mengadakan P2M di Kuningan yang mempunyai target 10 besar dalam Porda Jabar.
"Alhamdulillah target tercapai. Kalau tidak salah, Sembilan. Artinya, pemahaman pelatih di bidang kepelatihan meningkat signifikan. Dalam merealisasikan proses kepelatihan dan mengimplementasikan program pelatihan tidak ragu-ragu," kata Komarudin.
Dalam P2M ada beberapa periodesasi latihan dan tahapan-tahapannya jelas. Materi berupa core kepelatihan, yaitu psikologi dan anatomi, psikologi olah raga dan analisis ferforma olah raga. "Kegiatan hari ini (Rabu) materinya berupa pengukuran olah raga. Dengan waktu dua hari target peserta minimal dia paham dulu, karena di cabor-cabor atau induk organisasi ada slot-slot peningkatan SDM melalui pelatihan atau penataran. Nah di situ dimantapkan kembali. Kegiatan ini sekadar pengabdian dan menebar ilmu hasil inovasi yang dilakukan para dosen di kampus," paparnya.
Diharapkan palatihan SDM kepelatihan olah raga ini bisa meningkat. SDM mereka melek dengan perubahan ilmu dalam kepelatihan olah raga serta bisa mendongkrak prestasi, baik nasional atau internasional.
"Kalau pembinaan di daerah bagus, bakal muncul atlit dan bisa menyumbang di PON," katanya.* deddyra
