Oleh: Dr. H. Darajat Wibawa, M.Si--Ketua Prodi Ilmu Komunikasi
BOLEH jadi semua orang mengatahui mengenai kata kepemimpinan dan komunikasi. Betapa tidak, dua kata tersebut sering didengar di mana pun kita berada. Bisa didengar ketika pergi ke mall, liburan, nonton film, di kampus, di sekolah, di pasar, serta sejumlah tempat lainnya. Namun demikian, tampaknya tidaklah semua orang mengetahui, mengerti, dan memahami betapa pentignya keberadaan kepemimpinan dan komunikasi dalam sebuah organisasi. Ibarat dua sisi mata uang logam, antara kepemimpinan dan komunikasi tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Mereka saling mengikat dan membentuk kohesitas yang sangat sulit dipisahkan antara satu dengan lainnya. Sebagus apa pun sebuah program yang dirancang oleh seorang pemimpin tetapi minim bahkan tidak dikomunikasikan kepada bawahannya, diyakini akan memberikan hasil yang tidak menggembirakan alias tunggulah kehancuran itu, pasti datang dengan segera.
Istilah kepemimpinan sebagai terjemahan dari leadership yang dalam pengertian umum merupakan suatu proses kegiatan seseorang dalam memimpin, membimbing, mempengaruhi, atau pengontrol pikiran, perasaan, atau tingkah laku orang lain. Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui suatu karya, seperti buku, lukisan, dan lain-lain, atau melalui kontak pribadi antara seseorang dengan orang lain secara tatap muka (face to face). Kepemimpinan melalui karangan atau ciptaan yang dituangkan dalam bentuk buku atau lukisan dapat dikatakan sebagai kepemimpinan yang tidak langsung, karena sang pemimpin dalam usaha mempengaruhinya tidak seketika pada saat ia bergiat. Pemimpin jenis ini tiada lain seperti ilmuwan, seniman, atau satrawan yang hasil karyanya atau ide-idenya dapat mempengaruhi orang lain.
Kepemimpinan yang bersifat tatap muka, berlangsung melalui kata-kata lisan. Kepemimpinan jenis ini bersifat langsung, karena pemimpin dalam usahanya mempengaruhi orang lain, bergiat langsung kepada sasarannya. Oleh karena berhadapan muka, ia mengetahui seketika hasil kegiatannya itu. Berkenaan dengan berkembangnya teknologi seperi radio dan televisi, kegiatan kepemimpinan melalui kata-kata lisan ini dapat lebih efektif dengan memperoleh sasaran yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada jika berhadapan muka. Menurut Onong, Jika Socrates dahulu melakukan kegiatan kepemimpinannya dengan komunikasi antar pribadi (interpersonal communication), kemudian Demosthenes dengan komunikasi kelompok (group communication), maka di abad ini para pemimpin bergiat dengan komunikasi massa (mass communication) (Onong, 1977:15-16).
Sejarah dunia menunjukkan, bagaimana Hitler, Musolini, Roosevelt, dan pemimpin-pemimpin dunia lainnya sukses dalam usaha mempengaruhi rakyatnya melalui siaran radio. Di antara kita pun mungkin masih ingat bagaimana Bung Tomo pada waktu itu berrevolusi mengusir Belanda, sukses usahanya dalam membangkitkan perjuangan pemuda-pemuda kita melaui radio pemberointak-Nya. Faktor penting dalam kepemimpinan, yakni dalam mempengaruhi atau mengontrol pikiran, perasaan, atau tingkah laku orang lain itu ialah tujuan. Tujuan ini adalah tujuan si pemimpin. Kepemimpinan adalah kegiatan si pemimpin untuk mengarahkan tingkah laku orang lain ke suatu tujuan tertentu. Jadi tindakan seorang pengemudi bus yang karena jam tangannya pecah, menyebabkan puluhan pegawai yang di bawahnya terlambat datang di kantornya, tidak bisa dikatakan kepemimpinan, meskipun apa yang ia lakukan mempengaruhi tingkah laku orang lain. Si pengemudi bus tidak bermaksud mengontrol tingkah laku para penumpangnya, juga apa yang terjadi tidak terarahkan kepada tujuan tertentu. Andaikata ia secara sengaja memecahkan jam tangannya dan merusak jadwal dengan tujuan agar para penumpanya marah kepada pemilik perusahaan bus, ini baru bisa dikatakan sebagai kepemimpinan, tetapi itu tidak berarti bahwa kepemimpinan selalu merupakan kegiatan yang direncanakan dan dilakukan secara sengaja, sering kepemimpinan berlangsung secara spontan. Meskipun demikian, direncanakan atau tidak direncanakan, maksud dan tujuan selalu ada, dengan demikian mengisyaratkan ada dua unsur yang paling penting dalam kepemimpinan, yakni adanya tujuan dan adanya upaya untuk mempengaruhi orang lain.
Paling tidak, ada dua kategori yang dirangkum oleh para ahli kepemimpinan mengenai alasan seseorang menerima pengaruh orang lain. Kedua kategori tersebut tersebut bersifat normatif dan informasional. Pengaruh normatif --menurut teori perbandingan sosial, untuk memvalidasi atau mempertegas keyakinan sosial kita, kita merundingkan atau mengonsultasikannya dengan perilaku orang lain. Jika pengamatan kita terhadap orang lain memberi suatu pedoman dalam berperilaku (norma) kita mungkin akan terpengaruh untuk meniru tindakan tersebut. Standard atau norma sosial yang didapat dari kepercayaan kita kepada orang lain akan mengarah pada pengaruh normatif. Pengaruh informasional –Kadang-kadang kita mengubah pikiran dan tindakan karena orang lain telah menunjukkan kita cara/jalan yang lebih baik atau mereka memberi informasi yang berguna. Pengaruh informasi ini tidak hanya menghasilkan compliance, tetapi juga acceptance.
Fungsi seorang pemimpin beserta teknik kepemimpinannya berbeda menurut situasi sang pemimpin melakukan kegiatannya. Kelompok yang satu dengan kelompok lainnya berbeda macamnya, berbeda sifat pemilihannya, serta berbeda fungsi dan tujuannya, menghendaki cara kepemimpinan yang berbeda pula. Sifat sang pemimpin beserta proses kepemimpinannya dalam suatu rapat dewan, dalam suatu atau dalam suatu konferensi politik, jelas berbeda satu sama lain. Jenis kepemimpinan dan kepribadian dari orang yang dipilih nyata-nyata berbeda antara kebudayaan yang satu dengan kebuayaan lainnya, dan antara periode yang satu dengan periode lainnya. Dalam kepemimpinan tidak ada azas-azas yang universal, yang tampak ialah bahwa proses kepemimpinan dan pola hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin mempunyai ciri khas dalam setiap jenis kelompoknya.
Fungsi Kepemimpinan
Fungsi utama kepemimpinan terletak dalam jenis khusus dari perwakilan kelompoknya (group representation). Seorang pemimpinan harus mewakili kelompoknya melalui saluran-saluran yang khusus direncanakan dan dibuat oleh kelompoknya sendiri. Mewakili kepentingan kelompoknya mengandung arti, bahwa si pemimpin mewakili fungsi adminstrasi secara eksekutif. Ini meliputi koordinasi dan integrasi berbagai aktivitas, kristalisasi kebijaksanaan kelompok, dan penilaian terhadap macam-macam peristiwa baru terjadi, yang membawakan fungsi kelompok. Selain itu, seorang pemimpin merupakan perantara dari orang-orang dalam kelompoknya dengan orang-orang diluar kelompoknya. Ada sejumlah fungsi penting dalam kepemimpinan, di antaranya mengembangkan imaginasi, mengembangkan kesetiaan, memprakarsai, melaksanakan keputusan, mengawasi, dan memberikan penghargaan.
Mengembangkan imaginasi —Dalam fungsinya sebagai pengembang imaginasi mengisyaratkan seorang pemimpin memiliki suatu visi yang dapat meneropong apa akan terjadi dan kemampuan melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, merupakan hal-hal yang sungguh penting jika seorang pemimpin hendak membawa pengikutnya ke arah yang dituju. Imajinasi berkaitan dengan stimulator yang kukuh dan hidup, tetapi senantiasa harus berada di bawah pengawasan untuk menjamin secara maksimal tercapainya rencana kegiatan yang dapat direalisasikan secara praktis, dan secara minimal erat hubunganannya dengan kesadaran pada pelanggaran-pelanggaran terhadap lingkungan, dan erat hubungannya dengan kepekaan terhadap berbagain tekanan. Benak yang penuh imajinasi mempunyai peranan penting dalam perjumpaan dengan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin timbul. Benak yang imajinatif senantiasa mencari kondisi-kondisi yang unik serta cara-cara yang umum dalam tingkah laku.
Sebuah masalah yang pada suatu saat hanya kecil artinya bila sempat berlangsung – akan berkembang menjadi masalah besar yang bisa menyebabkan terjadinya apa yang dinamakan krisis yang tidak terelakkan. Kepemimpinan yang imajinatif dan sensitif dapat membatasi dan mengurangi masalah-masalah seperti itu sebelum berkembang. Pemimpin yang bijaksana akan menganjurkan kepada pembantu-pembantunya untuk mengurangi masalah-masalah tersebut. Para pengikut yang memiliki kemampuan menggambarkan progam-progam baru dan kemampuan membangkitkan semangat, bisa berbahaya bagi kepemimpinan, kecuali kalau mereka mempunyai hubungan erat dan ikatan yang kuat dengan pemimpinannya, yakni ikatan dalam bentuk kesetiaan, kepercayaan, dan kepatuhan.
Mengembangkan kesetiaan —Fungsi ke dua dari kepemimpinan ialah tanggung jawab terhadap pengembangan kesetiaan kepada pemimpin dan kepada organisasi. Pengembangan kesetiaan ini tidak saja di antara para pengikut, tetapi lebih khusus di antara pemimpin rendahan dalam kelompok. Seorang pemimpin harus mampu menciptakan rasa cinta, rasa hormat, kepercayaan, dan kepatuhan di hati para pengikut serta senantiasa mengembangkannya. Seorang pemimpin yang bijaksana akan menunjukkan kepada kelompoknya, bahwa ia selalu tenang setiap saat dan di setiap tempat. Penciptaan dan pengembangan kesetiaan pihak anggota kelompok kepada pemimpin dan kepada organisasi merupakan fungsi yang jelas dari seorang pemimpin yang konstruktif.
Memprakarsai —Tugas mereka yang berada di puncak piramida organisasi ialah memprakarsai dan selajutnya bertanggung jawab pada kemajuan rencana bagi perealisasian suatu tujuan tertentu. Kepemimpinan mengarahkan suatu kegiatan yang berencana dan selanjutnya bersiap-siap untuk melakukan kegiatan berikutnya. Melakukan perencanaan dan menciptakan teori sehubungan dengan perencanaan tersebut merupakan tahap-tahap kegiatan yang perlu dianjurkan oleh seorang pemimpin kepada anggota kelompok yang patuh dan cerdas. Pengawasan terhadap rencana kegiatan ini sedemikian pentingnya, sehingga perlu dipelihara senantiasa oleh mereka yang berada di tingkat puncak. Di dalam lingkup pengawsan terhadap perencanaan, terdapat analisis yang objektif terhadap apa yang akan dilakukan, siapa yang akan melakukannya, di mana dijalankannya, dan kapan akan dilangsungkan. Ini semua adalah untuk merealisasiklan tujuan yang akan dicapai.
Melaksanakan keputusan —Suatu keputusan yang dianggap paling bijaksana bisa menjadi beku sama sekali kalau waktu pelaksanaannya salah. Sebaliknya keputusan yang kadarnya sedang-sedang saja, bisa menimbulkan hasil yang menguntungkan bila waktunya tepat. Dalam praktek kegiatan politik akan dapat dijumpai pemimpin-pemimpin yang dapat membuat rencana-rencana yang sempurna; dalam pada itu akan dapat ditemui pula pemimpin-pemimpin yang mempunyai kemampuan dalam soal mengguanakan waktu yang tepat. Sebuah organisasi akan beruntung apabila memiliki pemimpin yang benar-benar berkemampuan dalam mengambil keputusan yang baik dan tepat.
Pengawasan --Perintah yang jelas dan terang harus diikuti pengawasan yang saksama. Apakah instruksi-instruksi itu dimengerti? Apakah instruksi-instruksi itu berhasil? Pernyataan-pernyataan seperti itu harus timbul dari benak para pemimpin. Para pemimpin ini bukan saja harus bertanya kepada diri sendiri, tetapi juga harus dapat menyadari kemungkinan mengubah rencananya dan menyederhanakan instruksi-instruksi tersebut. Jika terjadi kegagalan, si pemimpin harus cepat-cepat mengadakan perubahan yang memadai. Pada akhirnya, jika tujuannya akan mudah tercapai dan keuntungan pun akan dapat diperoleh.
Memberikan anugerah --Pemimpin yang bijaksana tidak akan menganggap pekerjaannya selesai sebelum ia mengucapkan terima kasih kepada anak buahnya yang setia, yang telah membantu merealisasikan tujuannya. Untuk melaksanakan hal itu secara sukses, diperlukan daftar nama-nama yang harus menerima pengakuan dari sang pemimpin. Daftar tersebut hendaknya lengkap. Fungsi dari penganugerahan tanda jasa ini ialah diterimanya kepercayaan oleh pimpinan dalam rangka merealisasikan tujuan. Seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab yang besar bagi tercapainya tujuan; karena itu hendaknya diberi kepercayaan yang layak. Tanpa kepercayaan dari pengikut-pengikutnya, tenaga dan pikiran yang dikeluarkan akan sia-sia saja. Mengapa seorang pemimpin memprakarsai, merencanakan, memutuskan, dan melaksanakan kegiatan, jika tidak untuk menerima kepercayaan dan menjadi pemimpin yang mampu membimbing pengikut-pengikutnya kepada tujuan yang lebih tinggi dan kegiatan yang lebih bernilai? Realisasi fungsi ini hendaknya ditujukan kepada pimpinan tingkat rendah yang terdekat dan paling setia dalam organisasi.
Dalam melaksanakan fungsi kepemimpinan seseorang, tidak lepas dari gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin. Menurut Thoha (1996: 265), gaya kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi prilaku pengikut-pengikutnya. Istilah gaya, secara kasar adalah sama dengan cara yang dipergunakan pemimpin di dalam mepengaruhi para pengikutnya. Pada saat bagaimana pun, jika seorang berusaha untuk mempengaruhi perilaku orang lain, sebagaimana sudah dipaparkan sebelumnya, kegiatan semacam itu telah melibatkan seseorang ke dalam aktivitas kepemimpinan. Jika kepemimpinan tersebut terjadi dalam suatu organisasi tertentu, dan ia merasa perlu mengembangkan staf dan membangun iklim motivasi yang mampu meningkatkan produktivitasnya, maka ia perlu memikirkan gaya kepemimpinan.
Studi kepemimpinan Universitas Michigan yang dipelopori oleh Gibson dan Ivancevich (2004: 413), mengidentifikasikan dua bentuk perilaku pemimpin, yaitu: 1). Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas (the job centered). Dalam gaya kepemimpinan ini, seorang manajer akan mengarahkan dan mengawasi bawahannya agar sesuai dengan yang diharapkan manajer. Manajer yang mempunyai gaya kepemimpinan ini lebih mengutamakan keberhasilan dari pekerjaan yang hendak dicapai daripada perkembangan kemampuan bawahannya. 2). Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan (the employee centered). Manajer yang mempunyai gaya kepemimpinan ini berusaha mendorong dan memotivasi pekerjaannya untuk bekerja secara baik. Mereka mengikutsertakan pekerjaannya dalam mengambil suatu keputusan.
Pola Komunikasi
Pada prinsipnya tipe atau gaya kepemimpinan sangat beragam dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Paling tidak, ada tiga tipe besar dalam kepemimpinan, yaitu tipe atau gaya kepemimpinan otoriter, demokratis, dan Laissez Faire (Kendali Bebas).
Gaya Kepemimpinan Otoriter --Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Pada gaya kepemimpinan otokrasi ini, pemimpin mengendalikan semua aspek kegiatan. Pemimpin memberitahukan sasaran apa saja yang ingin dicapai dan cara untuk mencapai sasaran tersebut, baik itu sasaran utama maupun sasaran minornya. Pemimpin juga berperan sebagai pengawas terhadap semua aktivitas anggotanya dan pemberi jalan keluar bila anggota mengalami masalah. Perkataan lain, anggota tidak perlu pusing memikirkan apa pun. Anggota cukup melaksanakan apa yang diputuskan pemimpin. Kepemimpinan otokrasi cocok untuk anggota yang memiliki kompetensi rendah tapi komitmennya tinggi.
Gaya Kepemimpinan Demokratis --Adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis, pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya. Pada kepemimpinan demokratis, anggota memiliki peranan yang lebih besar. Pada kepemimpinan ini seorang pemimpin hanya menunjukkan sasaran yang ingin dicapai, tentang cara untuk mencapai sasaran tersebut, anggota yang menentukan. Selain itu, anggota diberi keleluasaan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kepemimpinan demokrasi cocok untuk anggota yang memiliki kompetensi tinggi dengan komitmen yang bervariasi.
Gaya Kepemimpinan Laissez Faire (Kendali Bebas) --Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil; para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi. Pada gaya kepemimpinan ini seorang pemimpin hanya menunjukkan sasaran utama yang ingin dicapai. Setiap divisi atau seksi diberi kepercayaan penuh untuk menentukan sasaran minor, cara untuk mencapai sasaran, dan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya sendiri-sendiri. Dengan demikian, pemimpin hanya berperan sebagai pemantau. Kepemimpinan kendali bebas cocok untuk angggota yang memiliki kompetensi dan komitmen tinggi. Namun dewasa ini, banyak ahli yang menawarkan gaya kepemimpinan yang dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan, dimulai dari yang paling klasik, yaitu teori sifat sampai kepada teori situasional.
Pola komunikasi yang dibangun dalam kepemimpinan ala otoriter, demokratis, dan Laissez Faire sangatlah berbeda satu sama lainnya Dalam kepemimpinan otoriter, pola komunikasi yang dibangun cenderung bersifat one way communication. Artinya, komunikasi yang dibangun berdasarkan kehendak pimpinan tanpa memperhitungkan para pengikut di bawahnya, sehingga pola komunikasi yang tercipta adalah pola komunikasi satu arah. Dengan demikian, pemimpin tidak menghendaki feedback dari pengikut di bawahnya. Dalam kepemimpinan demokratis pola komunikasi yang dibangun berbeda 360 derajat dari pola komunikasi dalam kepemimpinan otoriter. Pola komunikasi yang dibangun dalam kepemimpinan demokratis cenderung bersifat two way communication. Artinya, komunikasi yang berjalan dalam kepemimpinan demokratis memberikan keleluasaan kepada para pengikutnya untuk memberikan pendapatnya sehingga pola komunikasi bukan didominasi oleh atasan ke bawahan (top-down), melainkan berasal dari bawahan ke atasan (bottom-up), sehingga mampu menciptakan suasana dialogis antara atasan dan bawahan. Sementara itu, kepemimpinan laissez faire, tampaknya tidaklah berbeda jauh dengan kepemimpinan demokratis, hanya dalam laissez faire adanya pembagian peran yang sangat jelas antara unsur yang satu dengan unsur lainnya, sehingga pola komunikasi yang dibangun bersifat sirkuler.
Lantas timbul pertanyaan; kepemimpinan dan pola komunikasi manakah yang paling ideal dan efektif? Untuk menjawabnya tidaklah semudah apa yang dipikirkan, sebab ketiga tipe kepemimpinan tersebut memiliki ragam keunggulan dan kelemahannya masing-masing, yang satu sama lainnya tidak saling mengungguli atau melemahkan. Bahkan bisa jadi ketiga pola komunikasi yang terjadi pada tiga tipe kepemimpinan tersebut dilakukan secara bersamaan dalam sebuah organisasi dengan tidak mengabaikan suasana dan iklim organisasi tersebut. Artinya, manajemen kemunculan tipe kepemimpinan otoriter, demokrasi, maupun laissez faire perlu dilakukan secermat mungkin sehingga terjadi suasana yang dinamis dalam sebuah organisasi. Namun apa pun itu, penggunaan pola komunikasi dan gaya kepemimpinan dalam sebuah organisasi adalah sebuah pilihan sebab yang jelas komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.***
