SOREANG, (WN.net) -- Selama hampir tiga tahun terakhir ini, terhitung sejak tahun 2012 sampai 2014, realisasi investasi berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), di Kabupaten Bandung terus menurun. Padahal berdasarkan LKPM, pada tahun 2012 realisasi investasi meningkat tajam dibanding tahun 2011. Tahun 2012, dari 76 proyek, realisasi investasi Penaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 3,692 triliun lebih, meningkat dibanding tahun 2011 yang hanya Rp 462,2 miliar lebih dengan jumlah proyek sebanyak 18.
Pada tahun 2013 mengalami penurunan cukup tajam dibanding tahun sebelumnya, yaitu realisasi investasi hanya mencapai Rp 2,719 triliun lebih, dengan jumlah proyek 29. Tahun 2014 menurun lagi, realisainya hanya Rp 2,575 triliun lebih, dengan jumlah proyek 33.
Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan (BPMP) Kabupaten Bandung, Drs. H. Ruli Hadiana, mengatakan perkembangan realisaasi investasi berdasarkan LKPM, sangat bergantung pada kepatuhan dan perhatian para pengusaha, baik PMA maupun PMDN, dalam menyampaikan LKPM.
"Jika kepatuhan pengusaha dalam LKPM semakin baik, maka tidak menutupkemungkinan nilai realisasi pada tahun berikutnya akan bertambah baik. Tetapi bila LKPM tidak dilakukan pengusaha, realisasi investasi akan menurun, malah cenderung semakin berkurang," kata Ruli Hadiana, didampingi Kepala Bidang Pengendalian dan Kerjasama Penanaman Modal, BPMP Kabupaten Bandung, Dra. Hj. Lilis Nurhayati, M.Si, di Soreang, kemarin.
Menurut Ruli, penurunan realisai investasi itu hanya dilihat dari laporan periodik perusahan yang berbentuk LKPM, tidak mencakup data investasi seca global yang ada di Kabupaten Bandung, karena realisasi investasi dapat pula dilihat dari perkembangan usaha, dan kelompok usaha yang lebih dikenal dengan sektor usaha. Sesuai Klasifikasi Buku Laporan Usaha Indonesia (KBLI), yang lebih memperinci lagi terhadap usaha-usaha yang ada di Indonesia, bahwa usaha yang dijadikan standar untuk melihat usaha yang dikembangkan oleh perusahaan dikelompokkan menjadi 25 bidang usaha dan dibagi tiga sector; primer, sekunder dan tersier.
Sedangkan dalam LPKM, tahun 2014 misalnya, hanya 33 bidang usaha dari 25 bidang usaha.
Secara rinci, kata Ruli, dapat dilihat dari laporan perkembangan penanaman modal di Kabupaten Bandung tahun 2011-2015.
Tahun 2011 dari 2.269 proyek PMDN/PMA, realisasi investasi mencapai Rp 3,132 triliun lebih; tahun 2012, dari 3.121 proyek, terealisasi Rp 6,302 triliun lebih; tahun 2013, dari 2.468 proyek, realisasi Rp 8,248 triliun lebih; tahun 2014, dari 2.534 proyek, terealisasi Rp 6,275 triliun lebih.
Untuk tahun 2015, sampai triwulan III, dari 1991 proyek, realisaai investasi baru Rp 6,220 triliun lebih.
"Oleh karen itu, sinergitas pengusaha dan pemerintah daerah harus terus ditingkatkan, agar setiap kegiatan investasi di daerah dapat dikendalikan dan terpantau secara baik, sehingga iklim investasi di Kabupaten Bandung cenderung lebih kondusif pada tahun berikutnya,” papar Ruli.
Sementara menurut Lilis Nurhayati, Kabupaten Bandung merupakan kabupaten di Jawa Barat yang sudah memberikan pelayanan terpadu satu pintu.
"Di Jawa Barat baru Kabupaten Bandung dan Purwakarta yang sudah PTSP, Provinsi dan Kota Bandung juga masih terpisah, Bandung Barat malah masih ke Kabupaten Bandung," kata Lilis Nurhayati S.
Bahkan, ujar Lilis, tahun 2015, BPMP Kabupaten Bandung mendapat penghargaan dari Gubernur Jabar, pembinaan terbaik PMA/PMDN dan masuk 10 besar tingkat nasional.
"Ini menjadi kredit poin. Pusat itu sekarang ada pelayanan 3 jam selesai untuk SIUP, TDP, di kita (Kab Bandung, Red.) malah 30 menit bisa selesai, asal persyaratan lengkap dan tidak melalui perantara, tapi yang bersangkutan datang langsung," papar Lilis. * deddy r
