SOREANG, (WN.net) -- Meski bermodalkan kecil, produk yang dihasilkan pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) tetap harus memperhatikan mutu yang baik sehingga mampu menembus pasaran luar negeri. Hal itu mesti dilakukan, karena menurut penilaian Bupati Bandung, H. Dadang Mochamad Naser, S.H, S.IP, M.IPol tingkat persaingan usaha semakin ketat.
"Barang dagangan sekarang ini sudah tersebar di mana-mana, namun pembeli tetap akan memilih barang yang kualitasnya bagus dengan harga yang terjangkau," tegas Dadang Mochamad Naser ketika membuka Temu Bisnis UMKM dengan Buyer di Gedung Moch. Toha Soreang, Rabu (27/04).
Pertemuan yang digagas Pemkab Bandung tersebut, dihadiri sejumlah pengusaha pasar swalayan dan 120 pelaku UMKM yang bergerak di bidang konveksi, handycraft, dan olahan makanan. Turut hadir Wakil Deputy NACCIMA (Nigeria Association of Chambers of Commerce Industry Mines and Agriculture), Mr. Hon Chidi Nkem Aruoma, yang tertarik pada produk olahan makanan asal Kabupaten Bandung.
Diberlakukannya pasar bebas ASEAN, kata Dadang Naser, telah membuka peluang sekaligus tantangan bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kualitas produksinya agar mampu bersaing di pasaran luar negeri.
"Untuk menembus pasaran luar negeri ini, pelaku UMKM harus memiliki jiwa kompetitif dan kreatif menciptakan produk yang mampu menarik calon pembeli," tambahnya.
Berbagai langkah yang telah ditempuh Pemkab Bandung untuk membantu para pelaku UMKM, di antaranya pembentukan pusat pengembangan usaha kecil dan mikro, aplikasi interaktif komunitas kreatif (Apik Kreatif), metode penyelenggaraan penyuluhan partisipatif (MP3), KRPL Sabilulungan, penyediaan mobil kemasan dan penyediaan sistem aplikasi perizinan terpadu (Sarindu) berbasis smartphone.
Kepala Dinas Koperindag Kabupaten Bandung, Popi Hopipah, menyebutkan kegiatan temu bisnis kali ini dimaksudkan untuk meningkatkan jejaring pemasaran para pelaku UMKM.
"Lebih penting adalah untuk mencari titik temu antara keinginan dan harapan kedua belah pihak dalam upaya meningkatkan pemasaran produk," kata Popi Hopipah.
Diakui Popi, 10 pasar swalayan di Kabupaten Bandung sejak beberapa tahun lalu telah menerima dan memasarkan berbagai produk olahan makanan yang dihasilkan pelaku UMKM. Berbagai varian makanan dan minuman, seperti abon jantung pisang, keripik peuyeum, dan minuman yang berbahan baku strawberi hasil olahan pelaku UMKM sudah beredar di sejumlah toserba.
Dijelaskan Popi, nilai ekspor yang dihasilkan Kabupaten Bandung pada tahun 2014 tercatat US $ 777.105.180,12 dengan volume sebesar 160.204.719,30 Kgm. Menginjak Tahun 2015 naik menjadi US $ 820.972.774,55 dengan volume 198.351.749,06 Kgm. Sebagian besar produk yang diekspor berupa coklat, katun, plastik, pakaian jadi, tas, serta alat kesehatan yang dikirim ke Kanada, Amerika Serikat, negara ASEAN, Korea Selatan, China, India di samping Pakistan. * deddyra
