KBB, (WN.net) --Tangkuban Parahu dan Saguling, lekat dengan ceritera legenda Sangkuriang. Dua tempat ini berada di wilayah Pemerintahan Kabupaten Bandung Barat. Tanah legenda Sangkuriang ini ternyata mampu menyedot perhatian kaum politisi atau kalangan masyarakat untuk mengadu nasib jadi penguasa di sana.
Pemilihan Bupati Bandung Barat akan bergulir pada 2018. Meski tahapan pelaksanaan pemilihan secara serentak ini masih cukup panjang, namun dinamika politik di wilayah pecahan Kabupaten Bandung ini sudah cukup memanas. Terutama di kalangan elite politik.
Suasana politik juga sudah menjadi viral di tengah masyarakat. Mereka berbincang soal suksesi. Terutama soal sosok bakal calon.
KBB sebutan Kabupaten Bandung Barat, kini menjadi pusat perhatian sejumlah figur yang berniat mencalonkan diri menjadi calon bupati atau wakil bupati. Tidak heran saat ini sejumlah bakal calon sudah bermunculan. Lihat saja di pinggiran jalan atau di pohon-pohon pinggir jalan raya hapir di seluruh pelosok wilayah KBB sudah dipenuhi foto-foto sosok bakal calon. Alih-alih sosialisasi, tapi mungkin tepatnya kampanye terselubung.
Sosok-sosok balon itu bermunculan, baik sosok lama maupun baru. Baik dari kalangan partai politik atau luar parpol. Termasuk sejumlah nama pejabat di lingkungan pemerintahan dan kalangan artis, turut meramaikan suasana politik KBB.
Keterangan yang berhasil dihimpun, sederet nama yang muncul dan digadang-gadang bakal mencalon diri atau dicalonkan antara lain; Hj. Elin Suharliah (istri Bupati Bandung, H Abubakar), H. Yayat T. Sumitra (Wakil Bupati Bandung Barat), H. Aa Umbara Sutisna (Ketua DPRD KBB) yang notabene ketiganya dari lingkup Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDPI). Kemudian H. Maman Sonjaya (Seretaris Daerah KBB) juga disebut-sebut akan dimunculkan. Ada nama Doddy Kholid (mantan Dirjen Badan Pertanahan Nasional) yang juga Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Golkar KBB, Aep Nurdin (Anggota DPRD KBB) yang juga pengurus DPC Partai Keadilan Sejahtera (PKS) KBB, Tatang Gunawan dari Partai Gerakan Indoneaia Raya (Gerindra) yang juga anggota DPRD KBB. Muncul juga nama Daka Purumas dari kalangan pengusaha, dan Hengky Kurniawan dari kalangan artis yang diusung Partai Demokrat, ada juga dr. Pupu (Kadis Kesehatan KBB). Ada juga DR. Ikeu Dewi Sartika (mantan Sekretaris Korpri Jawa Barat) yang kemungkinannya akan maju dari jalur independen.
Meski belum tentu lolos penyaringan dan penjaringan bakal calon, namun mereka sudah pede-melalui tim suksesnya-- bergerilya untuk mendapat simpati masyarakat. Beberapa balon bahkan getol mendatangi tempat pengajian atau melakukan kegiatan yang berbau kampanye, dengan dalih kegiatan sosial. Balon dari kalangan pejabat pemerintahan justru disinyalir memanfaakannya pada momen program pemerintah.
Diperkirakan sederet bakal calon yang muncul, pada saat penjaringan akan mengerucut bahkan mungkin saja dari sekian pasang balon yang daftar ke KPU Kabupaten Bandung Barat, tidak lebih dari tiga pasang calon yang nanti akan dipilih masyarakat KBB.
Koalisi
Salah seorang pemerhati politik dan pemerintahan, H. Djamu Kertabudi, mengemukakan sesuai jadwal KPU, pendaftaran pasangan bakal calon bupati/wabup yang diusung parpol pada 5-8 Januari 2018, bersamaan dengan pendaftaran cagub/cawagub Jabar. Idealnya, Oktober 2017 semua partai sudah mendeklarasikan koalisi berikut pasangan yang diusungnya. Namun khusus PDIP biasanya memiliki tradisi penetapan pasangan berikut koalisi partai dilakukan pada saat "injuri time". Dari sisi strategi tradisi ini cukup "mengganggu" fokus partai lain.
Akhir-akhir ini, tutur pesiunan pejabat di Pemkab Bandung ini, muncul wacana yang dipertegas oleh masing-masing pimpinan ketiga partai KBB, bahwa sudah mengerucut kemungkinan koalisi antara Partai Demokrat, PAN, dan PKS.
"Dengan demikian, apabila koalisi ini terjadi maka dengan sendirinya akan terjadi kemungkinan koalisi Golkar, Gerindra, dan Hanura. Namun kedua koalisi ini akan menemukan kesulitan tersendiri dalam menentukan pasangan. Misal koalisi yang ke dua, Golkar terkesan menginginkan figur untuk KBB2 mendampingi Kang Doddy adalah nonkader yang diusung Gerindra, sementara Gerindra memiliki spirit mengusung kader," tulis dosen di salah satu perguruan tinggi di Bandung ini dalam akun pribadinya
Demikian pula, kata Djamu, Hanura memiliki tiga warna antara mengusung nonkader, kader, dan warna "kekuasaan". Koalisi Demokrat PAN dan PKS, menghadirkan banyak figur berkarakter. Misal, Maman Abdurahman atau lebih dikenal dengan "Mandur" dan Eka Suwarna (PAN), Dikdik T dan Aef Nurdin (PKS), dan H. Kosasih dan Henky Setiawan (Demokrat).
"Akhirnya sesuai dengan karakter politik itu sendiri, politik itu penuh dinamika, apa pun bisa terjadi," kata dia.
"Partai yang secara dini sudah mempersiapkan diri tampil di kancah kontestasi pilkada KBB adalah PKB, PPP, dan PKPI. Partai ini sudah bersepakat membentuk Koalisi Bintang 9. Apabila koalisi ini mampu secara konsisten bertahan, dengan menyatunya kekuatan Partai "ulama" (PKB) dengan Partai "santri" (PPP), akan muncul poros politik baru yang memiliki kekuatan cukup signifikan, yang patut diperhitungkan pihak lain," kata Djamu yang mengaku ia dilirik PKB untuk diusung menjadi balon bupati KBB.* deddyra
