BANDUNG, (WN.net) – Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus meningkatkan angka rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai upaya memerangi penyakit menular penyebab utama kematian anak-anak, seperti diare dan ISPA pneumonia (radang paru).
Data Kesehatan Provinsi Jawa Barat menyebutkan, pada tahun 2015 rumah tangga ber-PHBS di Jabar mencapai 53,7%. Desa/kelurahan di Jabar yang telah melaksanakan sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) sebanyak 3.532 desa/kelurahan atau 59,2% dari total 5.962 desa/kelurahan yang ada di Jabar.
Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan (Aher), menyebutkan cuci tangan dengan sabun adalah perilaku hidup bersih dan sehat yang paling sederhana, terjangkau, dan efektif dalam memutus mata rantai kuman.
“Tangan seringkali menjadi perantara kuman atau pathogen, berupa virus atau bakteri sumber penyakit, yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, baik dengan kontak langsung ataupun tidak langsung. Tangan yang bersentuhan dengan kotoran, atau benda yang terkontaminasi, ketika tidak dicuci dengan sabun, dapat memindahkan bakteri, virus, dan parasit pada tubuh,” katanya pada pencanangan komitmen bersama ‘cuci tangan sebagai kebiasaan’, bersama kurang lebih 1.000 pelajar tingkat SD, serta Ketua TP PKK Netty Heryawan, Kepala Dinas Kesehatan Jabar, Alma Lucyati, dan jajaran Forkopimda Jabar lainnya, di area Parkir Timur Gedung Sate Bandung, Rabu (26/10).
Sementara itu, dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, penduduk Jabar dengan usia lebih dari 10 tahun yang berperilaku cuci tangan dengan benar sebesar 45,7%. Meskipun masih di bawah rata-rata nasional (47%), persentase penduduk Jabar yang berperilaku cuci tangan secara benar meningkat signifikan jika dibandingkan pada tahun 2007 yang hanya mencapai 27,2%.
Aher menambahkan, mencuci tangan secara benar, yaitu mencui tangan pakai sabun khususnya di lima waktu penting, yakni; (1) sebelum makan, (2) sebelum menyiapkan makanan, (3) setiap kali tangan kotor, seperti: setelah memegang uang, binatang, berkebun, setelah buang air besar, setelah menceboki bayi/anak, (4) setelah menggunakan pestisida/insektisida; dan (5) sebelum menyusui bayi.
Dari data yang dirilis UNICEF, sebanyak 3,5 juta anak-anak di seluruh dunia meninggal sebelum mencapai umur lima tahun karena penyakit diare dan ISPA. Rilis data UNICEF juga menyebutkan bahwa risiko relatif dampak tidak mencuci tangan dari percobaan intervensi adalah 95% menderita diare. Mencuci tangan dengan sabun dapat mengurangi risiko diare hingga 47 %. * wnn
